Pemuda Harus Independen dan Pede

Pemuda Harus Independen dan Pede


Dalam kapasitas saya sebagai Sekjen KNPI Periode 2002-2005, wartawan Harian Suara Karya Kardeni mewawancarai saya tentang masalah kepemudaan dan kondisi Aceh pasca Perjanjian Helsinki. Wawancara itu terbit pada 25 November 2005 dengan judul Pemuda Harus Independen dan Pede. Berikut liputan dan wawancara lengkapnya:

Salah satu nama yang ramai disebut-sebut dalam bursa calon Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) adalah M Fakhruddin. Sekjen DPP KNPI itu memang serius akan maju sebagai salah satu calon Ketua Umum DPP KNPI dalam kongres yang akan diselenggarakan, media Desember mendatang.

Berikut ini petikan percakapan Suara Karya dengan Fakhruddin yang mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) tersebut. Putra Aceh ini sangat peduli dengan perkembangan yang terjadi di tanah kelahirannya. Dalam pandangannya, kaum muda atau pemuda harus ambil bagian nyata dalam upaya-upaya menangani problem atau ancaman disintegrasi bangsa.

Apa komentar anda tentang perkembangan di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sekarang ini, pascakesepakatan Helsinki?

Positif karena terjadi kemajuan-kemajuan. Kerinduan akan suasana damai menjadi harapan seluruh masyarakat Aceh. Kita semua, terutama kaum muda sudah seharusnya terus mendorong dan berperan nyata dalam upaya-upaya menegakkan perdamaian ini. Tidak hanya di NAD, tetapi di berbagai tempat dari Sabang sampai Merauke.

Saya melihat ada semacam intervensi Ilahiyah yang menyentuh sisi-sisi kemanusiaan yang paling dalam diri mereka yang terlibat dalam perundingan di Helsinki. Mereka menyadari bahwa perang bukanlah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah Aceh. Kita bersyukur bahwa bencana tsunami lebih memantapkan mereka memilih duduk di meja perundingan dan menyelesaikan Aceh secara lebih humanis dan bermartabat.

Namun, tidak sedikit tokoh yang melihat perjanjian Helsinki menguntungkan GAM?

Tidak ada masalah sepanjang perjanjian masih dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan UUD 1945. Pendekatan diplomatik selalu membuka ruang bagi proses tawar-menawar, supaya tidak ada pihak yang kehilangan muka. Yang penting adalah sikap saling percaya sudah mulai tumbuh. Saya melihat, sejumlah butir dalam kesepakatan itu masih bisa diperlonggar. Saya optimis, apapun dapat diselesaikan apabila komunikasi batin sudah mulai terbangun.

Soal “konsesi” ekonomi yang diperoleh oleh para mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), saya kira mesti kita lihat dari kaca mata orang Aceh. Semua orang tahu bahwa cukup besar peran dan sumbangan orang Aceh terhadap eksistensi republik ini, khususnya di awal-awal berdirinya. Namun harus diakui bahwa situasi dan kondisi Aceh sebagai daerah yang senantiasa diwarnai pergolakan dan perlawanan dalam waktu yang panjang — sejak era penjajahan Belanda sampai republik — menjadikannya relatif jauh tertinggal dibanding daerah lainnya. Sehingga, layak apabila sekarang ini dilakukan percepatan pembangunan di sana, sebagai reward atas ketulusan mereka dalam mempertahan bumi dan Tanah Air kita. Inilah yang selama ini agak terabaikan.

Berangkat dari prolog di atas rasanya agak berlebihan kalau kita memersoalkan pemberian lahan yang hanya 2 hektar. Para elite kita yang tidak setuju dengan konsesi ini, jangan membayangkan harga tanah di Aceh sama seperti harga tanah yang di Menteng. Di sana masih ada tanah yang harganya 500 ribu per hektare.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Adanya sikap kritis dan perbedaan pendapat tentu biasa bagi kita yang menjunjung nilai-nilai demokrasi. Jadi, tugas besar kemanusiaan kita ke depan adalah harus terlibat dan mendorong semua pihak untuk gentleman dan commited terhadap seluruh isi perjanjian.

Kabarnya anda akan maju menjadi calon Ketua Umum DPP KNPI dalam kongres mendatang. Selama ini yang terpilih selalu kader Golkar. Apakah anda punya network untuk menembus elite politik Partai Golkar?

Sebagai calon pemimpin tentu saya harus membangun komunikasi dengan seluruh kekuatan politik yang ada. Khusus dengan Golkar, saya secara pribadi punya hubungan yang panjang dan spesial. Saat saya memimpin HMI, di awal reformasi, Golkar selalu menjadi sasaran hujatan, cacian, dan makian. Terus terang saya selalu tampil membela Golkar dalam setiap kesempatan. Atas sikap itu, di internal HMI saya menerima banyak kritikan, bahkan sebagian ada yang menduga saya sebagai anggota Golkar dan punya NPAG.

Saya melihat Golkar adalah aset bangsa dengan kualitas sumber daya manusia yang baik. Apa yang dimiliki Golkar adalah akumulasi dari kerja panjang selama 30 tahun lebih. Mengapa harus dihancurkan. Apalagi kita belum punya institusi politik alternatif karena kekuatan reformasi tidak tekonsolidasi dengan baik pada waktu itu.

Jadi, yang penting adalah menyiapkan sistim ketatanegaraan baru. Kita mesti jujur mengatakan, agenda reformasi dan tuntutan rakyat banyak diserap semasa pemerintahan BJ Habibie yang di-back-up oleh Golkar sebagai kekuatan politik mayoritas di parlemen ketika itu.

Karena itu, banyak orang kaget ketika saya menentukan PPP sebagai tempat berkiprah. Saya kira sangat penting para mantan aktivis menyebar di berbagai kekuatan politik untuk mendorong reformasi dan penguatan di seluruh partai. Saya memilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Saya meyakini bahwa PPP adalah partai Islam yang moderat dan fleksibel dalam memaknai Islam sebagai Idiologi. Jadi kesamaan cita-cita dan persepsi politik inilah yang menjadi modal dasar saya dalam menjalin hubungan emosional dengan kawan-kawan dan elite di Golkar. Terakhir, anda perlu juga tahu bahwa orang tua saya — H Muhdi Suib Majid — pernah menjabat sebagai ketua Golkar di Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Selatan, dua periode lagi. He… he…he…

Anda setuju soal patron-patronan?

Anak muda harus menunjukkan karakternya yang independen, kritis, dan percaya diri (pede) tanpa harus kehilangan santun dan hormat terhadap siapa pun. Kita wajib melakukan komunikasi dan silaturrahmi. Saya jadi ingat pernyataan Ali Bin Abi Thalib, “Bukanlah pemuda kalau dia hanya bisa berkata ini bapak saya. Tapi pemuda adalah orang yang sanggup berkata inilah saya.” Yakinilah, patron utama kita adalah Allah. Dia akan titipkan kekuasaan kepada siapa pun yang dikehendaki, tugas kita hanya ikhtiar kemudian bertawakkal. (Kardeni)

*****
Read More
Darah Politikus adalah Warisan

Darah Politikus adalah Warisan


 Masa Kecilku

Fakhruddin kecil dilahirkan di desa Muka Blang Kecamatan Kuala Batee, tepatnya pada tanggal 20 September 1967. Meskipun di ijazah tertera tempat kelahiran saya di Desa Alue Padee. Desa kecil yang terletak 356 KM dari Banda Aceh atau 10 KM ke arah barat dari Kota Blang Pidie.

Ayah saya bernama H. Muhdi Suib Majid dan Ibu Hj. Syarifah Aini. Selesai menamatkan PGA 6 tahun, ayah saya mulai  meniti karirnya sebagai guru MIN di lingkungan Departemen Agama. Setelah beberapa tahun  menjadi guru biasa, kemudian dipercaya menjadi Kepala MIN Alue Padee dan MIN Sikabu. Setelah cukup lama bergelut dalam dunia pendidikan, beliau pun mendapat amanah baru menjadi  Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Kuala Batee, Susoh dan terakhir sebagai Kuakec. Kecamatan  Blang Pidie.

Beliau pernah bercerita bahwa, beberapa kali Kakandepag ingin mempromosikan orang tua kami ke lingkungan Depag Aceh Selatan, tetapi ayah selalu menolak karena tanggungjawabnya untuk mendidik kami. Beliau tidak bisa mencari pendapatan tambahan kalau meninggalkan kampung halaman. Dia sosok pekerja keras untuk mewujudkan mimpi kami. Pagi setelah subuh, ayah saya ke sawah, sampai menjelang jam kantoran. Tepat jam 8 pagi beliau sudah tiba di sekolah untuk mengajar. Kebetulan posisi sekolah berhadap- hadapan dengan rumah kami. Siang hari,  pulang mengajar langsung ke sawah atau ke gunung untuk berkebun. Itulah rutinitas kegiatan orang tua saya bertahun-tahun, tanpa mengenal lelah, untuk mendukung kami mewujudkan mimpi.

Pengorbanan yang tak sia- sia, akhirnya seluruh anak- anaknya menjadi sarjana di berbagai disiplin ilmu. Saya. M Fakhruddin, menamatkan Fakultas Teknik Jurusan Mesin, Universitas Syiah Kuala. Mukhlis menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Arab IAIN Ar- Raniry. Nur Hidayah menjadi Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Syiah Kuala. M. Taufiq menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala dan adik terkecil Mukhtar adalah Insinyur Teknik Sipil lulusan Universitas Mulawarman, Pontianak, Kalimantan Barat.

Alhamdulillah, kami semua lulusan perguruan tinggi negeri. Dan ayahanda tercinta dipanggil sang pencipta, tepat setelah adik terkecil menyelesaikan pendidikanya. Kadang terlintas dibenak saya, seolah beliau hadir semata-mata untuk melahirkan, mendidik, membimbing kami hingga menyelesaikan pendidikan masing-masing. Kepergian yang tiba-tiba akibat kecelakaan. Kepergian yang masih menyisakan duka yang amat dalam bagi keluarga besar kami. Saya selalu merasa belum cukup mengabdi untuk membahagiakannya, sebagai seorang anak. Tapi kita semua harus pasrah dengan rencana dan skenario Tuhan. Itulah jalan hidup.

Merantau di Usia Dini
Setamat MIN di Desa Alue Padee, tanpa diduga, orang tua saya menawarkan sekolah ke Meulaboh. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan, karena saya hanya berkeinginan melanjutkan study ke MTsN Susoh. Ada perasaan cemas dan bahagia ketika tawaran itu terucap dari ayah saya. Bayangkan, dalam usia yang sangat belia harus meninggalkan kampung halaman sekaligus berpisah dari orang tua tercinta. Saya tidak tahu, kenapa muncul keberanian dan akhirnya saya menerima tawaran ayah untuk melanjutkan studi di Meulaboh. Akhirnya saya hijrah ke sana sambil mondok di Pesantren Babussalam di bawah asuhan Teungku Syech Abu Bakar Sabil.

Meulaboh, kota yang sempat luluh lantak karena tsunami punya andil besar dalam membangkitkan kepercayaan diri dan memperluas cakrawala berpikir saya. Ketika tanpa terduga, karena kurang percaya diri, Fakruddin kecil tetap bisa mempertahankan prestasi akademiknya sebagai juara kelas. Bayangkan, seorang lulusan Ibtidaiyah di desa terpencil, menjadi sang juara. Dan saya mulai percaya, semua bisa dicapai dengan ketekunan dan kesungguhan. Ternyata latar belakang keluarga, asal usul daerah bukan penghalang dalam meraih prestasi.

Minat bacanya  terhadap berbagai disiplin ilmu mulai terlihat sejak kelas I MTsN dengan mendaftarkan diri sebagai anggota perpustakaan Aceh Barat. Di sana  saya mulai mengenal karya- karya sastra Hamka, seperi: Tenggelamnya Kapal Van  Der  WijckDi Bawah Lindungan KabahMerantau ke Deli sudah menjadi bacaannya sejak bangku MTsN. Buku Ilmu Politik Islam karya Zainal Abidin Ahmad, Peranan Muhammad Roem dalam perjanjian Roem-Royen. Capita Selekta dan polemik Natsir dan Soekarno tentang asas negara sangat digandrungi oleh Fakhruddin remaja. Sekarang baru sadar kalau minat saya dalam dunia politik sudah terlihat dari usia belia. Dan saksi bisunya adalah ruang perpustakaan daerah Meulaboh di jalan Nasional. Pengenalannya lewat bacaan itulah yang membuat saya menjadi pengagum dan mengidolakan M. Natsir, politisi Masyumi, mantan Perdana Menteri RI, intelektual Islam terkemuka pada zamannya.

Di samping karena bacaan dan mengenal banyak tokoh lewat karya intelektualnya, minat terhadap dunia politik juga tumbuh dari tradisi keluarga. Rumah kami selalu terbuka untuk semua orang, tempat berkonsultasi segala urusan. Apalagi setelah Ayah saya menjadi KUA Kuala Batee, rumah kami menjadi kantor di luar jam kerja resmi. Dan satu hal yang menjadi kegemaran saya adalah “nguping” pembicaraan orang tua. Nilai-nilai keluarga itulah yang membentuk karakter seluruh keluarga kami, yang akhirnya senang bermasyarakat.

Studi ke Banda Aceh
Minat saya berorganisasi mulai terlihat ketika melanjutkan pendidikannya ke MAN I Banda Aceh. Tahun pertama saya masuk Aliyah, saya mulai ikut training Pelajar Islam Indonesia (PII) di komisariat Al- Kausar. Militansi dan kesadaran idiologis saya banyak di gembleng dalam training-training PII. Pada waktu itu, posisi ummat Islam dan kekuasaan sedang berhadap-hadapan, itu yang membuat PII menjadi  kelompok yang sangat kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Orde Baru. Di PII saya sempat ikut Mental Training atau training kader tingkat menengah di Komisariat Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry.

Masuk Universitas
Tahun 1986, saya masuk ke Fakultas Teknik. Kuliah di Teknik memang jadi impian saya sejak di SLTA, kebetulan beberapa guru honorer kami adalah mahasiswa tingkat akhir Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, antara lain, DR. Ahmad Syuhada dan Ir. Zardan Araby. Sebetulnya meskipun saya sering dapat rangking terbaik di MTsN Meulaboh, tapi kemampuan matematika saya sangat jelek. Satu-satunya mata pelajaran dimana nilai saya 5 atau 6 cuma matematika. Karena itu, saya kurang puas, ketika saya dapat nilai 7 di ijazah akhir MTsN. Saya hanya komplen dalam hati, kenapa saya dapat nilai 7?  Padahal saya sama sekali tidak bisa mengerjakan soal-soal matematika. Kecuali beberapa soal yang sangat mudah.

Tekad saya masuk ke Fakultas Terkniklah yang mendorong saya belajar matematika secara sungguh-sungguh. Dan saya sangat terbantu karena kualitas guru-guru matematika di MAN Banda Aceh sangat luar biasa, antara lain: Bapak Daud dan Ibu Cut Zainah. Di luar sekolah  saya banyak terbantu dengan kebaikan hati dua orang mahasiswa asal Abdya, Lahmuddin, mahasiswa FKIP Matematika dan Abang Muhammad, mahasiswa FKIP Fisika. Mereka berdua sering membimbing saya dalam menyelesaikan tugas-tugas matematika. Alhamdulillah, nilai matematika saya naik menjadi 9 pada ujian semester pertama. Sekaligus saya tetap mendapat  rangking satu di kelas. Sebuah kerja keras yang melegakan. Sejak itu matematika menjadi mata pelajaran favorit saya hingga saya menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Bakat berorganisasi semakin terlihat, setelah melanjutkan studi di Fakultas Teknik, Jurusan Mesin, Universitas Syiah Kuala. Pada awalnya saya banyak berkecimpung di organisasi mahasiswa dan pelajar lokal, IPPELMAKAS, setelah berkiprah satu periode dalam kepengurusan,  kemudian saya dipercayakan sebagai Ketua Umum IPPELMAKAS. Berbekal leadership dan pengalaman organisasi lokal, kemudian saya mulai aktif dan berkecimpung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di HMI-lah saya belajar berorganisasi yang sesungguhnya, karena saya terlibat sebagai pengurus cabang. Di sana saya mulai mengenal, aturan-aturan organisasi, mekanisme pengambilan keputusan, mengelola administrasi organisasi, bagaimana berdebat, bagaimana memimpin persidangan dan lain lain. Kemudian setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya saya berhasil terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh. Organisasi Kemahasiswaan yang paling bepengaruh di Aceh waktu itu. Lingkungan pergaulan politik kamipun  semakin luas. Kebetulan elite politik lokal pada waktu itu sebahagian besar keluarga besar HMI. Sejak dari Gubernur sampai dengan sejumlah Bupati yang menyebar di seluruh Aceh. Gubernur Ibrahim Hasan, Gubernur Syamsuddin Mahmud, Bupati Pidie Nurdin AR, Walikota Banda Aceh Baharuddin Yahya, Bupati Aceh Selatan Sayed Mudhahar Ahmad, Bupati Aceh Utara Ridwan Ramli semuanya berasal dari keluarga besar HMI. Dari banyak tokoh yang saya kenal, hanya  Prof. Ali Hasymi, Prof. Dr. Syamsuddin Mahmud, Baharuddin Yahya, dan Sayed Mudhahar Ahmad yang saya anggap sebagai mentor politik saya. Rumah mereka selalu terbuka untuk mendiskusikan banyak hal yang menjadi isu-isu politik aktual pada waktu itu.

Berkiprah di Ibu Kota
Pada saat menjabat Ketua HMI Banda Aceh, kongres HMI berlangsung di Surabaya. Dan sebagai Ketua Umum, saya dipercaya menjadi koordinator utusan HMI Cabang Banda Aceh. Waktu itu saya memobilisasi dukungan kepada saudara Aman Roman Syah, salah satu kandidat Ketua Umum dari Jawa Barat. Setiap kali kongres, biasanya HMI Aceh lebih dekat dengan kawan- kawan HMI Bandung. Setelah melewati proses yang cukup demokratis, calon yang kami dukung pun kalah. Kongres berhasil memilih Saudara Taufiq Hidayat, anggota DPR-RI sekarang, sebagai Formatuer/Ketua Umum. Saya ingat persis, kata-kata yang saya ucapkan ketika berjabat tangan dengan ketua terpilih, “Bang! Selamat mengemban amanah baru meskipun saya tidak memilih Abang.”

Saya ingin menegaskan kalau saya memberi ucapan selamat bukan untuk cari muka supaya jadi pengurus. Tapi alhamdulillah, Bang Taufik mengajak saya untuk memperkuat jajaran Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 1995-1997.

Mendapat kepercayaan sebagai salah satu pengurus departemen PB HMI, tentu sesuatu yang sangat membanggakan. Ketika proses penyusunan kepengurusan berlangsung, saya harap-harap cemas menanti kepastian, masuk atau tidak ke dalam struktur kepengurusan. Saya memang sudah bertekat menjadi pengurus pusat daripada menjadi Ketua Umum Badko HMI Aceh. Karena cukup kuat juga dukungan supaya saya maju menjadi Ketua Umum Badko Aceh. Dan saya menolak tawaran itu. Menurut saya, posisi sebagai Ketua Umum Cabang sudah lebih dari cukup, sebagai modal saya untuk berinteraksi dalam lingkungan elit politik Aceh waktu itu. Saya bertekat untuk membangun network dalam lingkungan pergaulan yang lebih luas di tingkat nasional.

Nama- nama besar mantan Ketua Umum HMI seperti: Dahlan Ranuwiharjo, SH,  Letjend. Achmad Tirto Sudiro, DR. Deliar Nur. DR. Nurcholis Majid, Ismail Hasan Meutareum, SH, Ir. Akbar Tanjung, Drs. Ferry Mursyidan Baldan selalu diperbincangkan dalam forum- forum training HMI.  Nama- nama di atas banyak yang menjadi idola sebagian besar kader- kader HMI baik di pusat maupun di daerah.

Terus terang, aktif di PB HMI membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan diri. Rapat- rapat awal di HMI saya lebih banyak menjadi pendengar yang budiman. Setelah enam bulan berkiprah sebagi ketua departemen Periode 1995- 1997, Resuffle pertama, Ketua Umum memberi posisi baru dan masuk ke jajaran pengurus harian sebagai Wakil Sekjen Bidang Pembinaan Aparat Organisasi (PAO).

Sudah menjadi tradisi di HMI, menjelang berakhirnya periode kepengurusan, selalu ada kasak- kusuk dengan bermunculan calon-calon Ketua Umum baru. Pengelompokan politik mulai terasa 6 bulan sampai setahun menjelang kongres. Beberapa figur calon ketua umum mulai melakukan loby-loby kecil. Dan sasaran loby mereka biasanya anggota departemen yang pernah menjadi Ketua Umum Cabang di daerah masing- masing. Lewat berbagai pertimbangan akhirnya saya menetapkan pilihan kepada saudara Anas Urbaningrum sebagai calon ketua umum yang akan saya dukung. Dan saya menjadi salah satu tim inti di tim sukses Anas Urbaningrum. Alhamdulillah Anas terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI periode 1997-1999.

Kemudian dua tahun berikutnya, lewat kongres HMI di Jambi, saya mendapat mandat dari kongres menjadi Ketua Umum PB HMI periode 1999-2001. Sebuah anugerah Allah yang tidak ternilai, amanah yang berat yang akhirnya bisa saya lalui dengan baik. Selesai di HMI beliau langsung mendampingi Idrus Marham, Sekjend DPP. Golkar sekarang, dalam kepengurusan KNPI, dimana Idrus Marham sebagai Ketua Umum dan saya sebagai Sekretaris Jenderal. Di samping memiliki pengalaman panjang di berbagai organisasi, sekarang saya dipercaya sebagai salah satu pengurus harian di posisi Sekretaris Departemen Politik DPP Partai Demokrat di bawah pimpinan Anas Urbaningrum.

Ingin Mengabdi di Kampung Halaman

Saya menganggap perjalanan panjang saya adalah bagian dari upaya belajar, memperkaya ilmu, memperluas wawasan dan pengalaman. Dan rasanya sangat penting bagi generasi muda kita untuk hijrah agar bisa memiliki kekayaan kultural karena memahami berbagai adat, budaya, kebiasaan dari berbagai daerah. Dan ini sangat penting untuk memperkecil pandangan stereotip terhadap budaya dan kebiasaan orang lain. Saya percaya bahwa interaksi sosial yang terbangun lewat “pengembaraan” akan semakin memperkuat intergrasi nasional kita sebagai bangsa.

Rasulullah juga berhasil menaklukkan Mekah setelah beliau hijrah ke Madinah. Di sana beliau mempersiapkan strategi, dukungan logistik, dan pasukan untuk merebut Mekah. Dalam kontek kepemimpinan Aceh pun mereka yang berhasil mengurus  Aceh adalah putra- putra terbaik Aceh yang pernah “hijrah” misalnya, Prof. Majid Ibrahim dan Prof. Ibrahim Hasan berhasil membangun Aceh karena beliau punya pengalaman di luar daerah. Sayed Mudhahar Achmad berhasil membangun Aceh Selatan karena beliau punya pergaluan yang luas dan pernah berhasil di luar. Buat saya mereka adalah pemberi inspirasi. Mereka adalah sedikit pemimpin yang pernah tertoreh dengan tinta emas dalam sejarah perjalanan Aceh.

Hubungan baik, jaringan, network, sahabat adalah modal sosial yang tidak bisa ternilai dengan materi. Dan kalau potensi di atas bisa dikapitalisasi, bisa dikumpulkan, maka dia menjadi sumber daya yang maha dahsyat. Saya meyakini sudah saatnya seluruh “investasi sosial” yang saya miliki untuk saya dedikasikan kepada rakyat Abdya dan masyarakat Aceh secara keseluruhan. Saya sudah berijtihad bahwa, jalur politik sebagai pintu pengabdian saya kepada bangsa. Kesadaran itulah yang menginspirasi saya untuk maju kembali dalam pemilihan Bupati Kepala Daerah mendatang di Abdya.

Kita sedang menghadapi problematika yang komplek; ada konflik yang berkepanjangan antara lembaga pemerintah dan DPRK, pengelolaan pemerintahan yang jauh dari good governance, profesionalisme birokrasi, mengekploitasi pendidikan untuk kepentingan politik, mutu pendidikan yang sangat merosot, pelayanan kesehatan yang menyedihkan, pembangunan infrastruktur yang terabaikan, perhatian terhadap kegiatan- kegiatan keagamaan yang kurang, silaturrrahmi dan hubungan baik dengan ulama yang tidak terjaga, penyalahgunaan wewenang yang merajalela.

Rasanya terlalu banyak deretan kata- kata yang kita perlukan untuk mencatat berbagai realitas yang menggelikan ini. Dan hanya ada satu kata kunci yaitu “SELAMATKAN ABDYA DAN PERUBAHAN, YES

*****

Read More